Miliarder ini 'usir' Anaknya dari Rumah, Lalu Lihat Apa yang Terjadi? Sungguh Tak Terduga

Jumat, 29 Juli 2016

Topeta - Dravya Dholakia, seorang Mahasiswa di Amerika Serikat harus menerima kenyataan pahit saat liburan musim panas.

Saat anak pedagang berlian ternama di India ini pulang, ia kemudian 'diusir' oleh Savji Dholakia, ayahnya sendiri.

Ayahnya saat itu memintanya untuk hidup di jalanan supaya mengetahui kesulitan mencari uang, dan untuk belajar hidup dalam keserdahanaan.

Ayahnya ingin anak tunggal dan satu-satunya pewaris usaha perdagangan itu juga bisa menghargai orang lain.

Kala itu dia diminta untuk hidup dengan perbekalan yang minim, yaitu ponsel, tiga stel pakaian dan uang 7000 rupee (Sekitar Rp 1 juta).

Baginya, uang sebanyak itu tak berarti karena uang itu hanya cukup untuk hidup selama empat hari.

"Selama lima hari kemudian, saya tidak punya pekerjaan, bahkan tidak tempat yang tepat untuk tinggal. Saya frustrasi," kata Dravya.

Dengan kondisi yang berat itu, Dravya lantas berusaha mencari pekerjaan. Tapi, ini tak mudah dilakukan karena semua tempat usaha menolaknya.

Ada 60 tempat usaha yang menolaknya, sampai akhirnya ia diterima kerja sebagai buruh di Kochi, kota kecil di India Selatan.


Salah satu pekerjaan yang dilakoni Dravya berjualan makanan (sumber malaysiandigest)

Di sini, Dravya hidup dibayar murah. Kamar tidurnya juga harus dibagi dengan beberapa orang.

"Ada saat-saat aku harus berbagi kamar dengan empat orang. Itu jelek dan tidak higienis. Saya belajar untuk hidup di makan nasi dengan upah 40 Rupee (sekitar Rp 7000)," katanya.

Walau demikian, di sini ia mampu berkenalan dengan orang India dari kelas menengah ke bawah.

Mereka sangat membantunya untuk selalu rendah hati, serta betah di tempat kerjanya.


Tempat tinggal Dravya selama diminta ayahnya untuk hidup di jalanan. (Instagram)

Setelah bekerja di sana, Dravya melakoni banyak pekerjaan baru mulai dari Call Center di mana ia harus meladeni 800 panggilan setiap hari, pegawai toko makanan, dan lainnya.

Upahnya juga mulai naik, dan iapun mulai menemukan tujuan ayahnya untuk hidup di jalanan.

Dia menyadari bahwa obsesi untuk menjadi kaya dan memiliki segalanya tidaklah baik. Semua pekerjaaan itu sama.

"Saya tinggal di tempat di mana mereka tidak bisa berbicara dengan bahasa saya. Tapi mereka memberi saya begitu banyak cinta. Kita semua berbicara dengan bahasa hati, kerendahan hati.

Pengalaman ini telah memberi saya kekuatan untuk terus berjuang di dalam setiap jenis situasi atau keadaan.

Tidak ada penolakan bisa menghentikan saya dari mencapai tujuan saya," kata Dravya menyimpulkan seluruh kehidupan jalanannya selama berbulan-bulan.


sumber : suryamalang
loading...
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar test